Ini adalah sebuah cerita teman saya di SMA yang bernama Mufti Faisal Hakim. Selanjutnya kata ‘saya’ disini adalah Mufti Faisal Hakim.

Obrolan saya dengan seseorang yang bercerita mengenai mimpi dia dan kawan kawannya membawa saya merasa bahwa tokoh tokoh dalam Laskar Pelangi dan cerita cerita yang serupa benar benar nyata sepenuhnya. Check it right here!

Beberapa saat yang lalu, saya menjalani sebuah ospek jurusan yang menamakan dirinya ‘PPJ’, kependekan dari ‘Program Profesionalisme Jurusan’ dalam program studi Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan. Sebuah ospek yang, well, lumayan keras dan memberi saya banyak cerita menarik di dalamnya sekaligus menguras isi dompet tanpa ampun.

Dalam ospek yang berjalan sekitar 8 hari tersebut, kami dituntut untuk menjadi satu kesatuan yang terdiri dari 185 kepala mahasiswa baru. Sesuatu yang sulit, karena saya pernah merasakan betapa sulitnya mengumpulkan anggota OSIS di SMA yang memiliki anggota hanya sekitar 80 kepala siswa.

Senior menekankan beberapa hal kepada kami agar kami, satu angkatan prodi ESP, dapat menjadi satu kesatuan yang solid dan kompak. Satu kalimat yang masih teringat dengan jelas dalam memori saya adalah jawaban atas pertanyaan yang berbunyi, “Bagaimana agar kami bisa kompak dan kenal satu sama lain?”

Senior yang berperan sebagai Tim Evaluasi (TE), jabatan yang membutuhkan sifat sifat jutek dan segala tetek bengeknya agar dapat membentuk kami menjadi mahasiswa yang teladan dalam tugas dan kompak dalam universitas, menjawab bahwa satu satunya cara ialah dengan keluar dari area nyaman, sharing dan tukar pikiran dengan orang yang berbeda visi serta misi dengan diri kita.

Saya berfikir, mana ada orang yang berbeda visi serta misi dengan saya dalam prodi ini? Kami berdiri menjunjung nama jurusan yang sama, tentu visi dan misi kami pastinya serupa. Setuju? Palingan cuma beda jabatan yang diimpikan dalam cita-cita, dan cara untuk mencapai itu semua. Namun selebihnya saya yakin kami semua pasti memiliki visi dan misi yang sama, belajar dan sukses.

Namun, saya pikir tidak ada salahnya untuk bertukar pikiran dengan mereka yang berasal dari tempat yang jauh dengan saya. Mereka yang mungkin tidak hidup di kota besar layaknya Jakarta dan Bandung. Mereka yang memiliki pengalaman one-hundred percent berbeda dengan siswa siswa yang memiliki otak cetakan guru guru di kota besar.

Saya kemudian bertukar pikiran dengan seorang kawan yang berasal dari sebuah pesantren besar dan sudah terkenal secara skala internasional yang terletak di Pulau Jawa, Indonesia. Dan dia menggiring pembicaraan kita menjadi sebuah topik menarik, dan memberikan saya cerita mengenai pengalaman hidup seorang siswa yang sangat sulit ditemukan dari mulut siswa siswa seperti saya dan kebanyakan siswa lainnya.

Apa?

Sang narasumber ini bercerita mengenai kehidupan dia di pesantren yang begitu keras. Enam tahun menimba ilmu plus satu tahun mengajar disana sebagai bentuk pilihan pengabdian pada masyarakat adalah jalan hidup yang dia lewati dengan keras selepas lulus dari sekolah dasar.

Satu hal yang membuat saya tertarik dengan ceritanya yang panjang ialah ‘mimpi’.

Dia bercerita, bahwa tidak semua siswa disana memiliki cita cita menjadi seorang agamawan, ustad, atau profesi yang berbau keagamaan, seperti apa yang dipelajari sebagai majorisasi pendidikan selama enam tahun di sana. Sebagian dari mereka ingin keluar, dan meneruskan pendidikan di luar lingkungan pesantren, termasuk dia. Dia bersama beberapa temannya memiliki mimpi, dan berkata bahwa memang mimpi lah yang membuat dia nekat untuk berjuang masuk gerbang perkuliahan.

Mengapa saya katakan nekat? Karena pendidikan mereka tidak menomorsatukan akademis, tapi lebih kearah pembentukan jati diri serta kepribadian. Mereka tidak mengenal jurusan ipa, ips, atau bahasa. Dia bercerita bahwa dia belajar mata pelajaran yang serupa dengan sekolah kebanyakan di Indonesia, kecuali ekonomi, tapi akhirnya dia dapat menembus gerbang fakultas ekonomi melalui SNMPTN. Lebih jauh, dia mengatakan bahwa memang benar dia belajar lebih banyak mata pelajaran dari sekolah lainnya, karena dia juga diwajibkan untuk kelas english conversation, arabic conversation, hingga kelas filsafat hidup.

Secara keseluruhan, dia sendiri menyimpulkan bahwa disana tidak banyak diberikan pelajaram, tetapi pengajaran. Sesuatu yang dibutuhkan negeri ini, karena telah rusaknya pendidikan di negeri kita.

Menurut ceritanya, pesantren dia tidak memberikan UN alias Ujian Nasional, ujian yang bocornya ‘mampus-mampusan’ di beberapa daerah setiap tahunnya, termasuk Kota Bogor. Dia dan beberapa rekannya yang memiliki ‘mimpi’ untuk menjadi seorang mahasiswa memutuskan untuk mencari tempat les dan akhirnya mengikuti UN ‘nebeng’ di sebuah Madrasah kecil di daerah sana. Segalanya mereka urus sendiri, tanpa campur tangan pesantrennya.

Alhamdulillah, dia dan beberapa rekannya lulus semua dalam UN ‘nebeng’ tersebut. Selanjutnya? Mereka memilih Kota Bandung sebagai tempat untuk les berikutnya, dan berusaha sekeras kerasnya untuk dapat menjadi mahasiswa di Bandung ini. Sekali lagi saya ingatkan, bahwa mereka disini berjuang dengan mimpi, karena bekal akademis mereka tidak cukup bahkan untuk UN sekalipun.

Dengan les inilah, sebagian dari mereka pun mencoba untuk mengikuti Ujian Mandiri dari beberapa universitas, juga SNMPTN. Sekarang, mereka semua berhasil menjadi mahasiswa di Universitas Pendidikan Indonesia, Universitas Padjajaran, Institut Teknologi Bandung, dan seorang dari mereka di Universitas Islam Bandung.

Mungkin ada dari anda yang kesal baca notes ini ya? Garing dan membosankan. Hanya saja, saya sangat terinspirasi dengan apa yang mereka sebut dengan ‘mimpi’. Sesuatu yang sulit saya temukan dalam diri saya dan teman teman saja. Mimpi yang mereka maksud, lebih dari sekedar cita-cita.

Mengapa lebih? Karena seorang siswa SMA biasa sudah sewajarnya bercita cita untuk kuliah dan menjadi seorang sarjana di bidang yang dia pilih, dengan fasilitas di kota yang memadai. Akademis yang di-dewa-kan di sekolah sekolah unggulan di kota kota besar, dan juga belasan pilihan tempat les dari berbagai institusi semakin memudahkan kita sebagai siswa SMA biasa. Mereka? Tidak.

Satu lagi, pengajaran pada dasarnya sesuatu yang lebih baik dari pendidikan, dan mereka, sang anak anak penuh ‘mimpi’ itu  mendapatkannya.

Mimpi Dari Pelosok Negeri

(Cerita Inspirasi Orang Lain)

Ini adalah sebuah cerita teman saya di SMA yang bernama Mufti Faisal Hakim. Selanjutnya kata ‘saya’ disini adalah Mufti Faisal Hakim.

Obrolan saya dengan seseorang yang bercerita mengenai mimpi dia dan kawan kawannya membawa saya merasa bahwa tokoh tokoh dalam Laskar Pelangi dan cerita cerita yang serupa benar benar nyata sepenuhnya. Check it right here!

Beberapa saat yang lalu, saya menjalani sebuah ospek jurusan yang menamakan dirinya ‘PPJ’, kependekan dari ‘Program Profesionalisme Jurusan’ dalam program studi Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan. Sebuah ospek yang, well, lumayan keras dan memberi saya banyak cerita menarik di dalamnya sekaligus menguras isi dompet tanpa ampun.

Dalam ospek yang berjalan sekitar 8 hari tersebut, kami dituntut untuk menjadi satu kesatuan yang terdiri dari 185 kepala mahasiswa baru. Sesuatu yang sulit, karena saya pernah merasakan betapa sulitnya mengumpulkan anggota OSIS di SMA yang memiliki anggota hanya sekitar 80 kepala siswa.

Senior menekankan beberapa hal kepada kami agar kami, satu angkatan prodi ESP, dapat menjadi satu kesatuan yang solid dan kompak. Satu kalimat yang masih teringat dengan jelas dalam memori saya adalah jawaban atas pertanyaan yang berbunyi, “Bagaimana agar kami bisa kompak dan kenal satu sama lain?”

Senior yang berperan sebagai Tim Evaluasi (TE), jabatan yang membutuhkan sifat sifat jutek dan segala tetek bengeknya agar dapat membentuk kami menjadi mahasiswa yang teladan dalam tugas dan kompak dalam universitas, menjawab bahwa satu satunya cara ialah dengan keluar dari area nyaman, sharing dan tukar pikiran dengan orang yang berbeda visi serta misi dengan diri kita.

Saya berfikir, mana ada orang yang berbeda visi serta misi dengan saya dalam prodi ini? Kami berdiri menjunjung nama jurusan yang sama, tentu visi dan misi kami pastinya serupa. Setuju? Palingan cuma beda jabatan yang diimpikan dalam cita-cita, dan cara untuk mencapai itu semua. Namun selebihnya saya yakin kami semua pasti memiliki visi dan misi yang sama, belajar dan sukses.

Namun, saya pikir tidak ada salahnya untuk bertukar pikiran dengan mereka yang berasal dari tempat yang jauh dengan saya. Mereka yang mungkin tidak hidup di kota besar layaknya Jakarta dan Bandung. Mereka yang memiliki pengalaman one-hundred percent berbeda dengan siswa siswa yang memiliki otak cetakan guru guru di kota besar.

Saya kemudian bertukar pikiran dengan seorang kawan yang berasal dari sebuah pesantren besar dan sudah terkenal secara skala internasional yang terletak di Pulau Jawa, Indonesia. Dan dia menggiring pembicaraan kita menjadi sebuah topik menarik, dan memberikan saya cerita mengenai pengalaman hidup seorang siswa yang sangat sulit ditemukan dari mulut siswa siswa seperti saya dan kebanyakan siswa lainnya.

Apa?

Sang narasumber ini bercerita mengenai kehidupan dia di pesantren yang begitu keras. Enam tahun menimba ilmu plus satu tahun mengajar disana sebagai bentuk pilihan pengabdian pada masyarakat adalah jalan hidup yang dia lewati dengan keras selepas lulus dari sekolah dasar.

Satu hal yang membuat saya tertarik dengan ceritanya yang panjang ialah ‘mimpi’.

Dia bercerita, bahwa tidak semua siswa disana memiliki cita cita menjadi seorang agamawan, ustad, atau profesi yang berbau keagamaan, seperti apa yang dipelajari sebagai majorisasi pendidikan selama enam tahun di sana. Sebagian dari mereka ingin keluar, dan meneruskan pendidikan di luar lingkungan pesantren, termasuk dia. Dia bersama beberapa temannya memiliki mimpi, dan berkata bahwa memang mimpi lah yang membuat dia nekat untuk berjuang masuk gerbang perkuliahan.

Mengapa saya katakan nekat? Karena pendidikan mereka tidak menomorsatukan akademis, tapi lebih kearah pembentukan jati diri serta kepribadian. Mereka tidak mengenal jurusan ipa, ips, atau bahasa. Dia bercerita bahwa dia belajar mata pelajaran yang serupa dengan sekolah kebanyakan di Indonesia, kecuali ekonomi, tapi akhirnya dia dapat menembus gerbang fakultas ekonomi melalui SNMPTN. Lebih jauh, dia mengatakan bahwa memang benar dia belajar lebih banyak mata pelajaran dari sekolah lainnya, karena dia juga diwajibkan untuk kelas english conversation, arabic conversation, hingga kelas filsafat hidup.

Secara keseluruhan, dia sendiri menyimpulkan bahwa disana tidak banyak diberikan pelajaram, tetapi pengajaran. Sesuatu yang dibutuhkan negeri ini, karena telah rusaknya pendidikan di negeri kita.

Menurut ceritanya, pesantren dia tidak memberikan UN alias Ujian Nasional, ujian yang bocornya ‘mampus-mampusan’ di beberapa daerah setiap tahunnya, termasuk Kota Bogor. Dia dan beberapa rekannya yang memiliki ‘mimpi’ untuk menjadi seorang mahasiswa memutuskan untuk mencari tempat les dan akhirnya mengikuti UN ‘nebeng’ di sebuah Madrasah kecil di daerah sana. Segalanya mereka urus sendiri, tanpa campur tangan pesantrennya.

Alhamdulillah, dia dan beberapa rekannya lulus semua dalam UN ‘nebeng’ tersebut. Selanjutnya? Mereka memilih Kota Bandung sebagai tempat untuk les berikutnya, dan berusaha sekeras kerasnya untuk dapat menjadi mahasiswa di Bandung ini. Sekali lagi saya ingatkan, bahwa mereka disini berjuang dengan mimpi, karena bekal akademis mereka tidak cukup bahkan untuk UN sekalipun.

Dengan les inilah, sebagian dari mereka pun mencoba untuk mengikuti Ujian Mandiri dari beberapa universitas, juga SNMPTN. Sekarang, mereka semua berhasil menjadi mahasiswa di Universitas Pendidikan Indonesia, Universitas Padjajaran, Institut Teknologi Bandung, dan seorang dari mereka di Universitas Islam Bandung.

Mungkin ada dari anda yang kesal baca notes ini ya? Garing dan membosankan. Hanya saja, saya sangat terinspirasi dengan apa yang mereka sebut dengan ‘mimpi’. Sesuatu yang sulit saya temukan dalam diri saya dan teman teman saja. Mimpi yang mereka maksud, lebih dari sekedar cita-cita.

Mengapa lebih? Karena seorang siswa SMA biasa sudah sewajarnya bercita cita untuk kuliah dan menjadi seorang sarjana di bidang yang dia pilih, dengan fasilitas di kota yang memadai. Akademis yang di-dewa-kan di sekolah sekolah unggulan di kota kota besar, dan juga belasan pilihan tempat les dari berbagai institusi semakin memudahkan kita sebagai siswa SMA biasa. Mereka? Tidak.

Satu lagi, pengajaran pada dasarnya sesuatu yang lebih baik dari pendidikan, dan mereka, sang anak anak penuh ‘mimpi’ itu  mendapatkannya.

Jangan Putus Asa (Cerita Pribadi)

Posted by: IGNASIUS SETIADI LEMA in Cerita Inspirasi No Comments »

“021..”
“SIAP!”

Ya, nomor urut yang dipanggil itu adalah nomor pendaftaran saya di Akademi Militer. Saya termasuk peserta yang gagal di psikotes. Berakhir ssudah perjalanan saya jadi taruna Akmil.

Saya menjadi teringat lagi kenapa tiba-tiba saya ingin menjadi Taruna Akmil.
Sebenarnya saya hanya ingin mencoba saja ketika ada kakak kelas yang sukses menjadi taruna Akmil dan mempromosikan Akmil di kelas saya XII Ipa 2. Waktu itu tanpa pikir panjang saya langsung mengangkat tangan saya ketika ditanya siapa yang mau masuk Akmil. Itu karena dimata saya menjadi taruna saja sudah keren, apalagi lulus pendidikan disana dan menjadi seorang Letnan Dua. Akhirnya setelah memberi tahu ayah, dan ternyata ayah saya juga ingin sekali saya masuk Akmil, resmilah perjalanan saya untuk menjadi seorang taruna Akmil.

Saya menjadi sering bertukar informasi dengan teman sekelas saya yang bernama Purwanto, teman yang lebih dulu ingin menjadi seorang Jendral. Teman saya yang satu ini memang terkesan aneh dan suka bercanda. Tapi jujur saja saya salut sekali kepadanya. Aneh dan nyeleneh tapi kuat dan semangat. Dia merupakan salah satu faktor yang membuat saya bersemangat masuk Akmil. Selain itu ada juga teman saya yang bernama Belagar Fathoni yang bersama mencoba mengikuti tes Akmil ini.

Dengan dukungan doa dari orangtua dan teman-teman, saya semangat latihan fisik setiap harinya. Pull up, push up, sit up, lari, renang saya latih selalu dalam waktu 4 bulan yang tersisa supaya saya mantap di fisik . Dari yang awalnya pull up satu kali saja saya tidak mampu, akhirnya hingga tangan kapalan saya bisa mencapai 9 kali. Push up yang 10 kali saja sudah kelelahan, akhirnya bisa mencapai 30 kali. Itu semua karena saya bersungguh-sungguh sekali latian setiap pagi dan sore hari.

Lalu dimulailah rangkaian tes yang sangat sulit, panjang, menguras tenaga dan pikiran. Baru tes saja sudah seperti itu . Sempat mau menyerah tapi saya teringat pada ayah yang sudah susah payah mengurus segala persyaratan untuk pendaftaran Akmil. Saya tidak mau mengecewakan ayah, akhirnya saya melanjutkan terus perjuangan saya. Di Bogor saja sudah ada 104 peserta, belum dari kota lain seluruh Indonesia. Padahal jatah taruna yang akan mendapat kursi di Magelang hanya 300 orang saja !

Tapi tentunya saya harus tetap semangat dan pantang menyerah. Tes pertama yang harus saya lalui itu tes kesehatan. Karena saya sehat dan tidak mempunyai penyakit yang diluar persyaratan saya berhasil lulus. Peserta yang tidak lulus lumayan banyak sehingga yang tersisa hanya tinggal 84 orang. Saya cukup bangga, tapi sedih juga kehilangan beberapa teman baru yang sama-sama berjuang menjadi taruna. Namun inilah persaingan untuk menjadi yang terbaik dan menyandang predikat taruna Akmil.
Tes kedua yaitu tes fisik. Karena saya juga sudah latihan dengan keras, maka saya berhasil mendapatkan hasil yang cukup memuaskan. Lari 12 menit berhasil mendapatkan 2700  meter, pull up 9, sit up 50, push up 24, renang 25 m dicapai dalam 28 detik, shuttle run(lari membentuk angka 8 sebanyak 3 kali masing-masing sejauh 10 meter)18 detik. Saya senang sekali dengan hasil tersebut walaupun banyak yang hasilnya lebih bagus daripada saya, tetapi saya telah berusaha semampu saya.

Akhirnya saya berhasil lulus tes fisik. Saya kembali kehilangan teman-teman baru yang belum memenuhi syarat. Ketika pengumuman lulus atau tidaknya, selalu dipanggil nomor pendaftarannya kemudian dipisahkan yang lulus dengan yang tidak lulus. Selama saya lulus, saya selalu berpikir, bagaimana rasanya ada di barisan peserta yang tidak lulus? Pasti perasaan kecewa, sedih dan berbagai perasaan negatif akan menaungi pikiran kita. Pada saat semua mata memandang satu persatu peserta yang tidak lulus, entah itu karena kasihan, sedih, atau karena merasa lega karena dirinya tidak  masuk dalam barisan itu.

Tes selanjutnya yaitu tes mental dan ideologi wawancara. Seorang bisa diwawancara hingga 3 jam. Untung saya diwawancarai oleh panitia wawancara yang lumayan baik. Sehingga saya hanya diwawancarai selama satu jam saja. Lalu ketika pengumuman saya berhasil lulus lagi. Sejauh ini saya merasa bangga sekali bisa sampai sejauh ini.

Tahap selanjutnya adalah psikotes yang dilaksanakan di Bandung. Peserta yang tersisa hanya tinggal 43 orang. Saya mulai latihan untuk psikotes, seperti latian menggambar, mengitung penjumlahan di kertas koran dan yang berhubungan dengan mengasah kemampuan psikotes saya. Latihan yang mantap membuat saya merasa yakin untuk menghadapi tes yang satu ini.

Setelah meminta doa dari orangtua, saya pun berangkat ke Bandung naik bus bersama peserta yang lain termasuk teman saya Purwanto dan Belagar yang hingga saat itu masih berhasil melalui rangkaian tes sejauh ini. Di bus saya menjadi semakin dekat dengan teman-teman yang luar biasa dan memiliki cita-cita yang sama dengan saya untuk menjadi taruna Akmil. Pengalaman di perjalanan menjadi salah satu pengalaman yang tak terlupakan oleh saya.
Setelah tiba di Bandung, kami langsung istirahat supaya besok pagi bisa segar kembali dan bisa melaksanakan psikotes dengan mantap dan percaya diri.
keesokan harinya pukuk setengah 6 pagi setelah mandi dan siap-siap kami pun berangkat menuju ketempat psikotes. Disana sudah banyak sekali peserta se-Jawa Barat yang juga sudah lolos sampai tahap psikotes ini. Tapi saya merasa percaya diri sekali karena saya memang merasa saya punya kelebihan di tes yang satu ini. Ternyata tesnya sangat menguras pikiran dan mental. Tapi saya tetap merasa yakin karena saya mampu mengerjakan semua dengan baik.

Setelah berjuang selama kurang lebih 7 jam di tes ini, akhirnya kami pun pulang kembali ke Bogor dan menunggu satu bulan untuk pengumuman kelulusan. Diperjalanan banyak yang merasa tidak yakin dengan psikotes tadi, tapi entah kenapa saya merasa sangat yakin akan berhasil lulus tes ini.
2 hari sebelum pengumuman saya mimpi buruk. Saya bermimpi tidak lulus psikotes!! Tapi untungnya hanya mimpi saja. Keesokan harinya saya bertemu Purwanto dan saya menceritakan mimpi saya, ternyata dia juga mimpi tidak lulus psikotes. Saya sudah mulai panik. Tapi itukan hanya mimpi saja. Maka saya hanya berpikir positif, “Selow ah. Cuma mimpi ini. gaboleh dipikirin”.
Hari yang dinantipun tiba. Hari Jumat, 18 Juni 2010.
saya kumpul di Korem jam 10 bersama dengan teman-teman yang lain.menunggu sebentar hingga pukul 11, lalu semua menuju ketempat yang telah ditentukan, di sebuah ruangan. Sejujurnya saja saya tidak panik. Saya yakin dengan psikotes ini karena saya mampu mengerjakannya.

Tapi ketika Sersan Mayor Cahyo yang memang suka bercanda tapi tetap berwibawa mengatakan : “Yang sekarang merasa deg-degan berarti itu tanda-tanda ga lulus,” dalam hati saya masih santai, toh saya tidak merasa deg-degan. Tapi kata-kata selanjutnya memupus kepercayaan diri saya, “atau yang mimpi tidak  lulus atau dalam mimpinya disingkirkan dari kerumunan orang banyak itu tanda-tanda ga lulus.”

Deggg..  Mantap sekali kata-katanya. Saya mimpinya bukan yang ada isyarat-isyaratnya lagi, tapi saya mimpinya persis tidak lulus. Setelah itu, mulailah disebutkan satu persatu peserta yang tidak lulus.

“003”
“Siap..”

“021”
Secara spontan saya menjawab..
“SIAP!..”
Saya berdiri lalu keluar barisan, tersenyum, tapi kaget, tidak percaya. Saya melihat ke arah Purwanto dan Belagar yang lulus sementara nomor peserta lain yang tidak lulus masih di panggil.

Sesaat pikiran saya kosong. Tapi akhirnya saya tahu rasanya ada di barisan peserta yang tidak lulus. Ternyata begini toh rasanya.

Rasanya seperti disambar petir di siang bolong. Padahal saya yakin. saya percaya diri.
Pikiran saya kosong sekali saat itu. Selanjutnya yang tidak  lulus dipisahkan, diberi semangat, dan dikembalikan persyaratan pendaftaran. Tapi pikiran saya tetap kosong. Sedih sekali saat itu.

Akhirnya saya pulang kerumah, menuju motor saya yang terparkir dihalaman Korem dan sesekali melihat kebelakang, kearah teman-teman yang lulus dan diberi pengarahan untuk tes selanjutnya. Mungkin ini yang terakhir kali saya ada disana bersama teman-teman seperjuangan. Saya pulang tanpa mengucapkan selamat atau salam perpisahan pada teman-teman yang lulus. Mungkin saya kurang berhati besar saat itu, tapi itulah kenyataannya. Saya masih tidak percaya dengan kenyataanya.
akhirnya saya pulang dalam kesedihan. Setelah sampai dirumah saya pun masuk kamar dan belum berani memberitahukan kepada ayah saya bahwa saya gagal. Karena saya takut ayah saya akan sangat kecewa karena beliau telah mengorbankan waktu untuk membantu saya selama ini dan selalu mendoakan supaya saya berhasil menjadi taruna Akmil. Tapi akhirnya saya berani memberitahukan hal ini dan ternyata ayah saya memang kaget dan sedih, namun tetap berusaha menyemangati saya walaupun saya tahu beliau juga sangat sedih.
berhari-hari saya ada dalam kesedihan dan saya kadang berpikir kenapa saya gagal disaat yang tidak tepat. tapi setelah dipikir-pikir, justru inilah saat yang tepat buat saya. jika saya gugur ketika awal-awal pasti saya tidak akan mendapatkan pengalaman luar biasa bersama teman baru yang bercita-cita sama seperti saya, saya juga tidak mendapatkan apa-apa. Tidak mendapat kedisiplinan, dan masih banyak yang pasti terlewat bila saya gagal diawal.
Lalu jika saya gugur dites-tes yang selanjutnya pasti akan lebih sakit lagi perasaan saya. Karena semakin tinggi kita berada, saat jatuh akan lebih sakit. Semua pasti ada hikmah dan pelajarannya. Itulah hidup. Kadang kita harus merasakan pengalaman pahit agar kita dapat belajar dari pengalaman tersebut dan menjadikannya pelajaran agar kita berhasil di masa depan. Yang paling penting itu bagaimana kita menghadapi dan menjalani hidup ini dengan semangat . Kegagalan itu adalah kesuksesan yang tertunda.

Ya, demikianlah pengalaman hidup. Semoga pengalaman ini bisa menjadi inspirasi teman-teman untuk tetap semangat. Walaupun gagal dalam sebuah kesempatan.  Untuk tetap bepikir bahwa tidak ada yang namanya keberhasilan bila tidak ada kegagalan.

Matahari atau juga disebut Surya (dari nama Dewa “Surya – Dewa Matahari dalam kepercayaan Hindu) adalah bintang terdekat dengan Bumi dengan jarak rata-rata 149.680.000 kilometer (93.026.724 mil). Matahari serta kedelapan buah planet (yang sudah diketahui/ditemukan oleh manusia) membentuk Tata Surya. Matahari dikategorikan sebagai bintang kecil jenis G.

Matahari adalah suatu bola gas yang pijar dan ternyata tidak berbentuk bulat betul. Matahari mempunyai katulistiwa dan kutub karena gerak rotasinya. Garis tengah ekuatorialnya 864.000 mil, sedangkan garis tengah antar kutubnya 43 mil lebih pendek. Matahari merupakan anggota Tata Surya yang paling besar, karena 98% massa Tata Surya terkumpul pada matahari.

Di samping sebagai pusat peredaran, matahari juga merupakan pusat sumber tenaga di lingkungan tata surya. Matahari terdiri dari inti dan tiga lapisan kulit, masing-masing fotosfer, kromosfer dan korona. Untuk terus bersinar, matahari, yang terdiri dari gas panas menukar zat hidrogen dengan zat helium melalui reaksi fusi nuklir pada kadar 600 juta ton, dengan itu kehilangan empat juta ton massa setiap saat.

Matahari dipercayai terbentuk pada 4,6 miliar tahun lalu. Kepadatan massa matahari adalah 1,41 berbanding massa air. Jumlah tenaga matahari yang sampai ke permukaan Bumi yang dikenali sebagai konstan surya menyamai 1.370 watt per meter persegi setiap saat. Matahari sebagai pusat Tata Surya merupakan bintang generasi kedua. Material dari matahari terbentuk dari ledakan bintang generasi pertama seperti yang diyakini oleh ilmuwan, bahwasanya alam semesta ini terbentuk oleh ledakan big bang sekitar 14.000 juta tahun lalu.

Jarak matahari dari bumi

Jarak matahari ke bumi adalah 149.669.000 kilometer (atau 93.000.000 mil). Jarak ini dikenal sebagai satuan astronomi dan biasa dibulatkan (untuk penyederhanaan hitungan) menjadi 148 juta km. Dibandingkan dengan bumi, diameter matahari kira-kira 112 kalinya. Gaya tarik matahari kira-kira 30 kali gaya tarik bumi. Sinar matahari menempuh masa delapan menit untuk sampai ke Bumi. Kuatnya pancaran sinar matahari dapat mengakibatkan kerusakan pada jaringan sensor mata dan mengakibatkan kebutaan.

Suhu

Menurut perhitungan para ahli, temperatur di permukaan matahari sekitar 6.000 °C namun ada juga yang menyebutkan suhu permukaan sebesar 5.500 °C. Jenis batuan atau logam apapun yang ada di Bumi ini akan lebur pada suhu setinggi itu. Temperatur tertinggi terletak di bagian tengahnya yang diperkirakan tidak kurang dari 25 juta derajat Celsius namun disebutkan juga kalau suhu pada intinya 15 juta derajat Celsius. Ada pula yang menyebutkan temperatur di inti matahari kira kira sekitar 13.889.000 °C. Menurut JR Meyer, panas matahari berasal dari batu meteor yang berjatuhan dengan kecepatan tinggi pada permukaan matahari. Sedangkan menurut teori kontraksi H Helmholz, panas itu berasal dari menyusutnya bola gas. Ahli lain, Dr Bothe menyatakan bahwa panas tersebut berasal dari reaksi-reaksi termonuklir yang juga disebut reaksi hidrogen helium sintetis.

Perputaran Matahari

Karena Matahari tidak berbentuk padat melainkan dalam bentuk plasma, menyebabkan rotasinya lebih cepat di khatulistiwa daripada di kutub. Rotasi pada wilayah khatulistiwanya adalah sekitar 25 hari dan 35 hari pada wilayah kutub. Setiap putaran dan mempunyai gravitasi 27,9 kali gravitasi Bumi. Terdapat julangan gas teramat panas yang dapat mencapai hingga beribu bahkan berjuta kilometer ke angkasa. Semburan matahari ‘sun flare’ ini dapat mengganggu gelombang komunikasi seperti radio, TV dan radar di Bumi dan mampu merusak satelit atau stasiun angkasa yang tidak terlindungi. Matahari juga menghasilkan gelombang radio, gelombang ultra-violet, sinar infra-merah, sinar-X, dan angin matahari yang merebak ke seluruh tata surya.

Bumi terlindungi daripada angin matahari oleh medan magnet bumi, sementara lapisan ozon pula melindungi Bumi daripada sinar ultra-violet dan sinar infra-merah. Terdapat bintik matahari yang muncul dari masa ke masa pada matahari yang disebabkan oleh perbedaan suhu di permukaan matahari. Bintik matahari itu menandakan kawasan yang “kurang panas” berbanding kawasan lain dan mencapai keluasan melebihi ukuran Bumi. Kadang-kala peredaran Bulan mengelilingi bumi menghalangi sinaran matahari yang sampai ke Bumi, oleh itu mengakibatkan terjadinya gerhana matahari.

Prominensa

Lidah api yang ada di matahari atau juga disebut Prominensa merupakan bagian matahari yang sangat besar, terang, yang mencuat keluar dari permukaan matahari, seringkali berbentuk loop (putaran). Tanggal 26-27 September 2009 lalu, wahana ruang angkasa (Stereo A dan Stereo B) yang khusus memantau matahari merekam fenomena selama 30 jam ini.

Prominensa terjadi di lapisan photosphere pada matahari dan bergerak keluar menuju korona matahari. Jika korona merupakan gas-gas yang telah diionisasikan menjadi sangat panas, dinamakan plasma, yang tidak begitu memperlihatkan cahayanya, prominensa berisikan plasma yang lebih dingin.

Prominensa biasanya menjulur hingga ribuan kilometer; yang terbesar yang pernah diobservasi terlihat pada tahun 1997 dengan panjang sekitar 350.000 kilometer – sekitar 28 kali diameter bumi. Massa di dalam prominensa berisikan material dengan berat hingga 100 miliar ton.

Gerakan Matahari

Matahari mempunyai dua macam gerakan sebagai berikut :

  • Rotasi mengelilingi sumbunya, lamanya 25 1/2 hari satu kali putaran. Gerakan rotasi dapat dibuktikan dengan terlihat noda-noda hitam di bagian inti yang kadang-kadang berada di sebelah kanan dan kira-kira 2 minggu berada di sebelah kiri.
  • Bergerak di antara gugusan-gugusan bintang. Selain berotasi, matahari bergerak diantara gugusan bintang dengan kecepatan 20 km per detik, pergerakan itu mengelilingi pusat galaksi.

Manfaat matahari

  • Matahari mempunyai fungsi yang sangat penting bagi bumi. Energi pancaran matahari telah membuat bumi tetap hangat bagi kehidupan, membuat udara dan air di bumi bersirkulasi, tumbuhan bisa berfotosintesis, dan banyak hal lainnya.
  • Merupakan sumber energi (sinar panas). Energi yang terkandung dalam batu bara dan minyak bumi sebenarnya juga berasal dari matahari.
  • Mengontrol stabilitas peredaran bumi yang juga berarti mengontrol terjadinya siang dan malam, tahun serta mengontrol planet-planet lainnya. Tanpa matahari, sulit dibayangkan kalau akan ada kehidupan di bumi.